Dunia Fantasi

4:02 PM

Tick, 

Tick, 

Boom! sudah dua tahun berlalu lagi. Tapi apa yang berubah? Tidak ada. Hanya angka di akhir tanggal yang selalu kita sisipkan di pojok kanan atas sebuah halaman. Isi halamannya masih sama. 

Kata orang hidup itu seperti permainan di taman hiburan. Permainan yang memacu adrenalin yang membawa kita dari tempat tertinggi menuju tempat terendah dalam sekedip mata. Apakah hidup perisis seperti itu? Mungkin bagi beberapa manusia.

Tapi rasanya, aku menaiki wahana yang berbeda. Rupanya yang aku naiki adalah Bianglala yang sangat besar. Yang berputarnya sangat perlahan, sampai aku tidak tau apakah aku sedang menuju ke atas atau sedang berputar ke arah bawah. 

Tapi bukan kah seharusnya aku menikmati perputaran ini? Banyak hal yang bisa dinikmati jika aku tidak hanya menundukkan pandangan. Karena itu sesekali aku melihat ke arah lain. Tapi sering kali aku menundukkan pandangan. Mungkin aku takut ketinggian. Tapi apakah aku berada di ketinggian?

Tiba-tiba aku merasakan bahwa sepertinya aku sudah hampir menyelesaikan satu putaran. Apakah aku harus turun? atau aku masih bisa menaiki wahana ini lagi? Apakah aku masih ingin berputar lambat, sesekali menikmati pemandangan, tapi sering kali menunduk karena takut?

Apa yang aku mau? Aku pun belum tau.

tick, tick, tick.

Lanjut? Turun?

Apakah aku sebenarnya punya pilihan?

Cerita-cerita

Back with no reasaon

12:43 PM

2 freakin years later......

I write again! well bukannya sepanjang 2019 ga nulis, hanya saja tulisa-tulisan itu berakhir menjadi draft. Banyak yang isinya terlalu curhat akan beratnya hidup. Setiap abis nulis kontemplasi kehidupan, dibaca ulang sebelum dipost. Terus memutuskan to keep it to myself. Karena terkadang it sounds so sad, padahal di luar sana mungkin ada yang lebih sulit hidupnya. Mungkin gue aja yang kurang bersyukur. Jadilah semua posts itu berujung menjadi 12 drafts cantik di dashboard.

Banyak hal yang pengen diutarakan sebenarnya. Kalau lewat lisan, karena spontan, jadi biasanya tidak tersampaikan gagasan yang ingin disampaikan. Kalau melalui tulisan, tulisannya bisa dibaca kembali, dan kalau ada cara penyampaian yang kurang, bisa direvisi (kaya tugas kampis, yang hobinya revisi).

Besides post tentang kehidupan, issue terkini biasanya juga menarik buat dibahas. I always have an opinion about something. Kadang pengen juga nulis tentang sesuatu hal yang lagi rame di media. But then again, kalau sourcenya media, gue pesimis kalau dia valid and legit. Jadi selalu diurungkan juga niat ngepost tentang issue terkini. Lagian you don't always have to say something about anythiing kan.

Walaupun writing adalah bentuk ekspresi dan sebenarnya kita bebas berekspresi melalui freedom of speech, tapi gue selalu mikir seribu kali untuk mempost sesuatu. Selalu mikirin konsekuensi ketika gue nulis sesuatu. Again, suka ga pede sama source nya, Takut kurang risetnya sehingga opininya ga mendasar. No, bukan juga karena takut dicap ini itu.

I talk A LOT. Mungkin orang yang deket sama gue bisa mengkonfirmasi ini. Kalau udah klik, kita bisa ngobrolin apa aja berjam-jam. Dan gue personally have the urge to say whatever on my mind. That's why I write. Kalau dulu  mungkin lebih cuek, karena pada dasarnya diri ini selalu merasa benar. Hahaha. I know, itu kelemahan gue.Dan semakin dewasa gue jadi lebih berhati-hati dalam berbicara dan menulis. Karena ga selalu pendapat kita benar, berdasar dan ga offensive. Makanya lebih banyak mikir mau ngomong apa dan nulis apa.

Tapi karena lagi quarantine dan saking bosennya sampai nulis lagi hehe. Jadi ya mungkin bakal ada post-post kedepannya. Gue alhamdulillah sehat wal afiat, udah di rumah aja dari pertengahan Maret. Cuma beli groceries doang keluarnya. Lagi Ramadhan juga kan ini, alhamdulillahnya sih puasa jadi di rumah aja. Bisa lebih banyak ibadah. Tapi jadi ga kerja :( padahal BU. Ya semoga pandemi ini bisa cepat berlalu dan kehidupan kembali menjadi normal. Semoga setelah ini kita tetap practice hygiene lebih baik, karena sudah terbiasa kan. Setelah pandemi ini selesai, jangan lupa selalu jaga kesehatan dan kebersihan walaupun kehidupan sudah kembali sibuk. Stay safe and healthy people!

Ramadan Mubarak Everyone.


Soal kuliah jangan ditanya, masih struggling. Bye~

Jerman

Ngampus di Jerman: Ohne Ende

2:57 PM

Dua setengah tahun and counting, harusnya sih, harusnya udah lagi nulis Bachelor Thesis saat ini. Tapi apa daya realita berkata lain. Yah sekarang sedang berjuang kok menuju ke sana. Mungkin semua juga sudah maklum, yang kuliah di Jerman ga kelar-kelar. Dan mungkin banyak yang bertanya, kenapa sih?

Hmm mau mulai dari mana ya.

Banyak aspek yang bikin manusia macam kita ini kuliahnya lama. Mainly sih karena kita melakukannya bertahap dan pelan-pelan. Di sini menjadi mahasiswa abadi bukanlah sebuah aib. Ga jarang kita satu kelas dengan yang semesternya sudah lebih dari seharusnya. Semua take it slow di sini. Ngikutin pace masing-masing aja dalam memahami sesuatu. Dan masa perkuliahan di sini itu dijadikan waktu mencari semacam jati diri seseorang. Mereka kebanyakan ketika kuliah banyak mencoba ini itu untuk mencari sebenarnya dalam hidup itu kita passionnya apa, concern nya kemana dan tujuannya apa ketika sudah lulus. Begitu juga dengan kita, mahasiswa Indonesia, kita take it slowly, tapi biasanya alasannya adalah, ujiannya susah, takut ga lulus, jadi satu semester ngambil dikit aja deh. Biar dipersiapkan dengan maksimal dan bisa lulus. Atau kalau case kaya gue, yang ga ada ujian tapi harus nulis beribu paper. Sejujurnya, gue ga sanggup kalau harus nulis lebih dari dua paper per semester. Sementara satu semester gue harus nulis minimal 3 paper. Ya kembali lagi, memahami sesuatu atau menghasilkan tulisan dalam bahasa asing itu merupakan challenge tersendiri. Apalagi bahasanya Jerman. huft.


Aktivitas lain juga kadang menyita waktu dan konsentrasi. At least buat gue. Dulu pas baru masuk kuliah, gue jadi panitia sebuah acara konferensi yang lumayan besar. Alhasil ya gue harus membagi waktu gue untuk mengerjakan tugas dan mempersiapkan si konferensi itu. Selang beberapa bulan setelah konferensi itu sukses digelar, gue diminta jadi pengurus PPI Hamburg. Karena itu gue sering rapat ini itu, plus PPI Hamburg juga memutuskan untuk mengadakan hajat terbesarnya, sebuah pentas amal dengan judul Sounds of Indonesia. Jadilah lebih sibuk untuk mempersiapkan pentas ini.

So, the preparation and aftermath konferensi itu berlangsung selama 3 bulan di semester pertama. Next, jadi pengurus PPI satu periode, which selama semester 1, semester 2 dan awal semester 3. Setelah itu semester 3 mulai coba kerja part time.

NAH, ini juga aktivitas yang kadang lebih diutamakan dari ngampus. Kerja. Yes, most of us di sini bekerja part time. Ada yang untuk bertahan hidup, ada yang untuk jalan-jalan atau nongki cantik. Tapi hampir semua dari kita bekerja paruh waktu. Mahasiswa di sini bisa kerja paruh waktu dan yang lebih menyenangka, selain dari banyaknya peluang kerja, adalah potongan pajak yang tidak besar. Kerja paruh waktu di Jerman sangat worth it. Seberapa waktu dan tenaga yang keluar itu berbanding dengan gaji yang kita dapatkan. Jadi biasanya kita akan menyisakan waktu sehari atau dua dalam seminggu untuk bekerja.

Sebenarnya kalau dipikir-pikir. Everything fits perfectly. Ya ga sih? Gue yang ga mampu mengambil mata kuliah banyak-banyak, jadi punya waktu free, yang gue isi dengan mencari sesuap cheesecake atau pergi ke rapat mempersiapkan ini itu. Well, masing-masing tau porsinya. Lagian hidup di Jerman kalau hanya rumah-kampus-perpus-rumah itu bisa membuat kita depresi. Jadi lebih baik rute itu dikembangkan sedikit agar lebih bervariasi. Yang penting kita tau tanggung jawab kita apa.

So, yes. Gue belum kelar juga, dan kemungkinan masih akan menyandang status mahasiswa dua tahun kedepan. Doain aja ya agar segera lulus. Aamiin..

Kuliah di Jerman ohne Ende?
Nope, insyaaAllah ada waktunya selesai...

hidup

Menikah

2:41 PM

Being 24 in this era you get lots of pressure. So, how am I doing in my middle 20s?

Di zaman sosial media seperti sekarang ini, kamu dapat mengetahui perkembangan kehidupan teman-teman atau bahkan orang yang kamu tidak kenal sama sekali dengan mudah. Sangat mudah. Mereka dengan bangganya mengunggah foto-foto yang menggambarkan kebahagian mereka pada momen-momen dalam hidupnya. Salah satunya adalah momen pernikahan.

Kebiasaan membanding-bandingkan diri sendiri dengan orang lain itu tidak baik. Tapi nyatanya gue sering melakukan ini. Ketika teman-teman gue satu persatu mengunggah foto-foto bahagia mereka yang menunjukkan bahwa mereka sudah melangkan ke step yang lebih jauh dalam kehidupan ini (Baca: menikah), there is always this question from me to myself: "Look at you, lo kemana aja Afifa?".

Menikah. Banyak definisi yang bisa menjabarkan kata tersebut. Ketika usia menginjak ke kepala dua. Hal yang satu ini selalu masuk perthitungan dalam menentukan milestone kedepan. Or at least I did that. Gue 24 tahun, ketika masih berumur 19 tahun berencana untuk menikah pada umur 23 tahun. Dan gue sadar bahwa target yang ini harus diundur untuk at least beberapa tahun.

Tapi apa sih sebenarnya menikah untuk seorang Afifa?

Menikah itu ibadah. Oleh karena itu, menikah tidak perlu menunggu lulus kuliah atau dapat pekerjaan tetap. Apakah kalian menunggu hingga lulus kuliah dulu baru berhijab, baru berpuasa? As simple as that. Mencari berkahnya Allah bareng seseorang yang kita sayang, how wonderful is that?

Selain itu, gue personally akan sangat senang jika punya teman yang bisa selalu ada untuk gue, mau itu senang atau sedih. Sebaik-baiknya sahabat kita, mereka juga punya kehidupan sendiri. Akan ada saatnya dimana dia ga bisa dengerin curhatan kita, karena dia memang sudah occupied dengan permasalahan hidupnya sendiri. Tapi beda halnya dengan partner hidup. Hidup dia adalah kita, termasuk gue di dalamnya. Merasa mempunyai tempat untuk pulang, dengan segala beban dan permasalahan hidup yang dapat dibagi. Mungkin rasa itu yang gue perlukan. Orang tua juga bisa menjadi tempat pulang, of course. Tapi beda, ketika kita bercerita dengan orang tua yang memiliki ekspektasi sendiri kepada kita sebagai anaknya. Dengan kita bercerita dengan pasangan hidup yang sama-sama mengarungi kehidupan ini, mereka akan lebih bisa relate dengan apapun yang kita keluhkan.

Gue sendiri masih bingung meyakinkan laki-laki di luar sana, bahwa menikah merupakan sebuah ibadah. Kalau memang kita sudah berniat beribadah, insyaaAllah rezeki akan datang. I know, that's their biggest concern. Economy. Mungkin asking for a hand of marriage is not as simple as that for them. As they have to be the imam (the head of family). But it's 2018. We, women, can work and finance our family too! We can work as a team to make a living. Karena buat gue, materi adalah hal yang the least gue pikirin. But, not to those men out there. "Mau makan apa nanti kita?" "Apa kata mama kamu kalau aku belum kerja?". I completely understand why they are thinking that way. It's a big responsibility for them.

Yang perlu dicatat adalah, memang itu kewajiban kalian sebagai kepala rumah tangga untuk menafkahi kami para wanita. Tapi kami bukan menikah untuk meminta makan, dibelikan barang ini-itu. Bukan sombong, tapi kita pun bisa usaha sendiri untuk itu, tidak perlu menikah. Yang kami perlukan adalah companion. Satu hal juga perlu digaris bawahi, kami menikah bukan untuk menjadi tukang masak, housekeeper dan babysitter. Ketika gue melakukan semua itu nanti, itu adalah bentuk kerja sama yang gue tawarkan dan bentuk sebuah pengabdian kepada imam dalam hidup gue. So don't get me wrong, bukannya tidak mau.

Last but not least, ketika kalian melihat ada yang sudah memiliki pasangan, tapi tak kunjung menikah, memang ada beberapa yang merasa belum siap, tapi ada juga yang sedang mengusahakan untuk ke tahap selanjutnya, dan tidak jarang dengan obstacle yang banyak dan rumit. Bukan tidak mau segera menikah.

hidup

Ngampus di Jerman: Language Barrier

12:33 PM

Semester kedua, keadaan belum berubah. Masih pengen nangis.

Belajar ilmu sosial di Jerman itu subhanallah sekali loh. Berbeda dengan jurusan yang lain, jurusan ilmu sosial itu jarang ujian. Sebagai gantinya, kita harus submit essays mulai dari yang 3-5 halaman sampai yang 10-15 halaman. Selain itu kelas-kelas dipenuhi dengan diskusi dan tukar pikiran. At first, I thought that's really nice. I love discussion! apalagi membahas keadaan sosial dan pendidikan saat ini. Tapi ternyata, mengemukakan pendapat dengan bahasa lain (read: Jerman) itu susah.

Model belajar kita di kampus, bukan hanya mendengarkan dosen cerita di depan kelas. Tapi kita juga aktif mencari input dengan membaca teks wajib pemberian si dosen. Lalu setelah itu kita harus merangkum dan mendiskusikan isi teks tersebut di kelas.

Untuk memahami isi teks, alhamdulillahnya tidak ada masalah. Namun karena keterbatasan bahasa, cara kita menyampaikannya kembali  yang tergolong sulit. Well, I believe mereka paham dengan apa yang gue utarakan. Tapi dari diri gue sendiri yang selalu ga puas. "What I want to say is more than that"," Mereka pasti ga nangkep sesuai dengan ekspektasi gue". And it's frustrating. Karena suara-suara itu, I choose to be silent. And I hate it.

Tapi nyatanya, berdamai dengan keresahan tidak mudah. Well, still here watching them disscusing lots of interesting things.

I hope I can cope with this problem soon, real soon. When I did, I will definitely tell you how.


Apa yang kamu lihat?

7:48 AM

Kadang apa yang terlihat pada kasat mata
selalu kita anggap sebagai fakta.

Faktanya dia bahagia.
Lihat saja senyumnya
yang selalu terukir,
dengar tawanya
yang selalu memenuhi ruangan
dan kata-katanya yang penuh makna.
Kesimpulannya, dia bahagia.

Tapi apakah benar dia bahagia?

Dibalik apa yang tampak,
kadang tersembunyi sejuta cerita,
seonggok luka dan secangkir derita.
Setiap satu dari sejuta itu dia ceritakan,
sambil menuangkan beberapa tetes ke onggokan.
Pedih, sakit jangan ditanya.
Tapi nyatanya
hidup harus tetap berjalan,
pedih itu pun harus ditelan.


food

Halal?

12:00 AM


Ini halal ga ya?

Topik halal atau tidak ini sangat dan selalu populer dibicarakan dimana-mana. Apalagi di sini, di belahan bumi barat yang muslim nya minoritas. Setiap kali mau beli makanan, ini halal ga ya?. Alhamdulillahnya di Jerman banyak toko Turki yang jual daging halal. Bukan hanya daging, tapi sosis, salami, keju bahkan snack-snack sampai permen-permen berlabel halal pun ada. Tapi, tidak semua ada di toko Turki. Beberapa kita harus beli di supermarket lokal. The best thing we can do, kalau produk nya emang cuma dijual di supermarket lokal adalah melihat ingredient/komposisi/zutaten si produk tersebut. Biasanya, kalau komposisi nya tidak mengandung E470 keatas, menggunakan Soy Lecithin dan tidak ada gelatin nya inshaallah itu aman untuk dimakan.

Malaysia adalah the best place in the world for Halal food. Especially Kuala Lumpur. Di KL atau tempat-tempat lain di Malaysia, Halal atau tidaknya sangat jelas. Bahkan dipasar-pasar pun, si penjual ayam atau daging memiliki sertifikat Halal yang jelas. Kalau di Malaysia yang mengeluarkan label halal adalah JAKIM (Jabatan Kemajuan Islam Malaysia). Di Malaysia, Halal atau tidak nya sebuah produk, restaurant atau coffee shop itu sangat jelas. Setiap restaurant/coffee shop, mereka diwajibkan memasang sertifikat halalnya. Selain itu, jika sebuah restaurant memang menjual pork atau menggunakan lard mereka akan memberi sign bertuliskan non-halal di restaurant mereka. That is why it is easy to see apakah restaurant ini halal atau tidak. Dan untuk mendapatkan sertifikat halal dari JAKIM itu tidak mudah, karna prosedur nya sangat detail. Sekali ditemukan sesuatu yang tidak sesuai dengan term of Halal di Islam, mereka tidak akan mendapatkan sertifikat halal tersebut. Jadi sertifikat halal JAKIM itu sangat terpercaya. That is why Malaysia is the safest place to eat.

Lalu bagaimana Indonesia?
Indonesia justru harus dipertanyakan makanan nya. Selama ini kita  menganggap bahwa mayoritas makanan di Indonesia adalah halal. Padahal belum tentu, bahkan di pasar pun kita tidak tahu apakah ayam potongan itu disembelih sesuai dengan ajaran islam. Di restoran juga kita menerapkan asumsi yang sama, We believe that the restaurant is halal even they do not have any certificate. Ironisnya, Indonesia adalah negera dengan jumlah penduduk muslim terbesar didunia. Tapi kenapa kehalalan sebuah produk masih tidak jelas? Berasumsi bahwa semua daging di Indonesia adalah halal karena mayoritasnya penduduk Indonesia adalah muslim itu tidak salah. Tapi alangkah baiknya jika setiap restaurant atau slaughter house punya sertifikat halal. Tidak ada ruginya, inshaallah lebih berkah dan untung. Konsumen pun akan lebih tenang dalam berbelanja.


Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu. (QS 2:168)

life

The Three Stages

1:30 PM

Have you ever gone through a series of drama in your life?

Well, we all certainly have. Whether is a small roller coaster ride or a huge roller coaster ride with 4 loops that scares you out, we all must have gone through it. Depressed, sad, and any other unwanted feelings are always ready to come to us whenever we fail or experience a tragedy. The question is, how would you react with these kind of situation?

I have this one theory, that actually work for me to overcome depression and sadness. I was really depressed once. Everything just gone wrong, my plans are ruined and I was really sad and depressed. As the time flies, which is two years time, I finally gain back the confidence and the spirit to move on and continue life as it is. In short, I accept what has happened to me. Is it easy? trust me it's not easy. If it's easy, it won't took me two years to completely heal and move on.

There are three stages in depression or sadness that you have to go through.

First, BE SAD. It is totally okay for you to feel sad after a set of tragedies. As a human being, feeling sad is really normal. That part of emotion is always here inside us. Call someone a liar if they say they haven't felt sad. Even as a child we cried a lot. Go, be sad! mourn your life, cry! take it all out from you. But, you have to make sure that this stage doesn't take you long. Because life has to go on. After you finished mourning your life, let's go to the second stage.

Second, ACCEPT it. After locking yourself in your room for a week or two, you have to accept it. You have all the time in the world when you lock yourself in your room. Take that time to reflect as well. What has happened, how it affects your life and how and when you want to move on. Try to see positives sides behind it. Slowly open up and talk to other people about your problem. Again, you have all  the time you need for this accepting stage. It won't be easy. Sometimes you will feel like you're going back to stage one. Sadness and pain will haunt you down, but be strong. Look up to the positive things that you found. And find a way to escape those feelings, to cheer yourself up. Be it a slice of cake, good cup of coffee, or a talk over a bowl of Pho with your friend.

Last stage is MOVING ON. This is the point, where you are tired of being sad and you accepted everything as part of life. You will feel like you can breath again, that the sky is always bright and you are ready to face new challenges. You will be more energized as ever. At this stage, as you flash back to the past stages, you will smile and feel grateful that you finally did it. You finally escape the sadness.

It may takes months or even a couple of year. It's alright. Just enjoy the process. Have you ever be in the same situation again, you will go through these stages faster than before. Because you were there once, and now you know how to deal with it.

And always remember,

If you can see the positive sides of everything, you will be able to live a much richer life.
 -Celestine Chua

Marhaban Yaa Ramadhan!

9:49 PM

Well, it's time of the year again...

Marhaban Yaa Ramadhan!

There are lots of changes happened in the past one year. But, Alhamdulillah that I still have the chance to welcome another Ramadhan. Ramadhan this year will still be in the same circumstances as last year's. We have to fast for approx. 19 hours since it's currently summer. So yeah, that means another 5 kilos less on my scale :D But of course that is not the essence of Ramadhan. It's just a bonus point ;)

So, tomorrow begins the holy month of Ramadhan. And this year I have to fast alone. Yes. I will be having my sahur and iftar alone. This is my first time ever fasting far away (4-hours-drive away, to be exact) from home. As Ramadhan is not something that really common in Germany, you can not really feel the vibes of Ramadhan. And sadly I only have the chance to go home, when I'm finish with exams. Until then, I have to fast alone. Which wouldn't be a problem for me, I guess. Because I'm pretty good at waking up early. So I will manage to eat sahur on time, hopefully.

I have been making some changes in the previous months. I ponder a lot during my time alone here in Halle. I need to figure out lots of things in my life. Such as goals, dreams, plans, etc. And one thing I'm sure is that I want to be a better person. Better in every way. More devoting to God and become a better person with good personalities.

I believe during Ramadhan, I can devote myself even more to God. Trying to do whatever He likes, learn more about my believe and alongside, I just want to be grateful and appreciate everything.

Happy Fasting!

Pasrah

2:13 PM

Tulisan ini bukan sebuah curahan hati atau another halaman di buku diary. Ini kisah seseorang yang memilih untuk pasrah. Seperti yang kita tahu, kita diharuskan berusaha, berdo'a dan setelah itu baru pasrah/tawakkal. Dia yang telah melewati berbagai lika-liku kehidupan akhirnya memilih untuk pasrah. Selama hampir dua tahun hidupnya selalu membelakangi realita. Mungkin dia menjalani kehidupan sesuai realita, tapi dalam hatinya masih percaya bahwa ini bukan kehidupannya. Dia masih dengan angan-angannya yang mungkin kita bisa bilang sedikit 'maksa'. Selama hampir dua tahun itu lah dia selalu bersedih, depressed dan suffering. Dan pada akhirnya dia memutuskan untuk pasrah. Dia menyerahkan segalanya kepada Allah s.w.t. Kenapa? Alasannya hanya satu. Dia ingin bernafas kembali.

Selama hampir dua tahun itu dia hidup dengan menentang keputusan-Nya. Buatnya tuhan itu tidak adil. Setiap harinya hanya diisi dengan meratapi hidupnya yang tidak sesuai angan-angan dan cita-citanya. Entah sudah berapa ribu kali kata "What If" dan "Seharusnya kan" diucapkan. Semakin dia melihat sekeliling semakin dia membeci kehidupannya yang sekarang. Tapi semua itu berubah. Cukup dengan waktu 2 bulan, dia bisa merelakan segalanya. Dan dia merasa bisa bernafas kembali. Dia sudah tidak lagi bertahan dengan angan-angannya yang mungkin memang bukan jalannya atau belum saatnya terjadi. Dia relakan semua yang dia inginkan di kehidupan ini. Dia hanya ingin menjalani kehidupan seperti yang ada. Dia memilih untuk menerima kenyataan. Prinsip hidupnya sekarang adalah berusaha, berdo'a dan tawakkal.

Dan kepada Allah saja hendaknya kalian bertawakal, jika kalian benar-benar beriman.” (QS. Al-Ma’idah: 23)

Berlabuh

9:30 PM

Pernah suatu masa, sang Nahkoda tersenyum gembira. Dia seakan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Ya, sebuah pulau! Sang Nahkoda menyuruh awak kapal untuk segera bersiap menuju ke Pulau tersebut, untuk berlabuh. Dikira sang Nahkoda, di sana lah dia akan mengakhiri hidupnya. Di Pulau yang tak terjamah itu. Pikirnya, daripada terus berlayar tidak tentu arah, lebih baik berlabuh dan membangun kehidupan di Pulau itu. Gejolak ombak menerpa kapal berkali-kali. Namun pada sang Nahkoda tidak terbesit sedikit pun rasa khawatir. Dia percaya bahwa kapalnya kokoh dan tangguh. Dilihatnya sendiri kapal itu dibuat dari kayu dan besi pilihan.

Tapi ternyata pulau itu tidak dekat. Meski dalam teropongnya terlihat jelas, perlu waktu untuk mencapainya. Badai yang mengamuk, ombak yang menggila dan awak kapal yang melemah dan mulai menyerah tidak mengurungkan niat sang Nahkoda untuk berlabuh, memijakkan kakinya di tanah. Hari demi hari telah berlalu. Kali ini sang Nahkoda mulai meragui keberadaan pulau itu. Terlalu lama untuk digapai, terlalu banyak rintangan. Apakah pulau itu hanya sebuah fatamorgana? Apakah aku bermimpi? sang Nahkoda bertanya pada dirinya. Awak kapal berkumpul, bersorak bukan gembira tapi ingin sang Nahkoda untuk mengurungkan niatnya. Dilihatnya lagi pulau itu melalui teropongnya. Masih ada, hanya saja mengecil dan semakin mengecil. Itu pulau yang ingin dituju, tapi setelah perhitungan bintang untuk menentukan arah, bukannya mendekat justru malah menjauh. Apakah langit tidak mengizinkanku berlabuh di sana?

Demi memutuskan ketidakpastian, sang Nahkoda berseru "Kita kembali berlayar, hingga benar-benar kita temukan pulau yang terbaik untuk berlabuh!". Pelayaran itu dimulai kembali. Masih dengan tujuan yang sama, untuk berlabuh. Tapi kali ini berlabuh di pulau yang pasti, dengan izin langit dan semesta.

Kapal dengan bendera berlambang hati itupun terus berlayar......

We are the virus

12:42 PM

This is not a movie review or anything. This is just a humble opinion from one of the 7 Billion Earthlings.

Have you ever seen Kingsman? You know the villain called V, the one was played by Samuel L. Jackson? He come out with the theory why our earth is sick (global warming,wars and etc.) and the solution for it, if you watch the movie, that he planned to kill human race and left a small amount from 7 billion, whom he believes has great potential.

V believes that these people will create another civilized civilization.

In order someone to get better, one must kill the virus that causing the sickness. Am I right? And for V, earth is sick and the virus is us, human. So he tried a genocide in order to kill the virus. Does his theory really wrong? I believe no. We, humans are causing the destruction of earth.

NO, I don't agree with genocide. My point is that everything has to start from the human itself. Despite the technology and modernization we still have to look at ourselves. The only way to heal the world is by increasing awareness and humanity inside the human. Humans are too greedy.

Long story short..

9:50 AM

I spend most of my time abroad. The places are not what i'm proud of. But my ability to adapt.

0-3/4
Almost every stages of my life I spent in a different places. Let's go back to 1994. During autumn that year I was born. Yes, it was autumn in Berlin. I grew up there only until I was 3 almost 4 years old. I vaguely remember what happened with me during my toddler period.

3/4-12
Then we, my family, had to fly back to Indonesia. You know how harsh Jakarta is? I bet you know! But, I survived. I spent my pre-school days and my elementary school days there. Air pollution, noise pollution, flood and etc. were my best friend. I even took public transportation to go home from school (that time I was only 12).

12-18/19
Not long after I graduated from elementary school, we had to move again. This time to Kuala Lumpur, Malaysia. Well, similar faces, slightly different language and different attitude. I went to secondary school there. Public school. They all speak either Malay or English (but Indian speak Tamil and Chinese speak mandarin? cantonese? well not sure). First three months were the hardest. I barely know anything. But as the time flies, I was able to speak and socialize like locals. Even taxi driver or bazaar ramadhan makcik or packik would recognize me as malay. And won't believe that I'm actually Indonesian. How cool was that?

I thought my ship has sailed in a comfort Island. No. I have to transfer school. Still in Kuala Lumpur but different school, different environment. After I finished what so called PMR, I transfer to Indnonesian School of Kuala Lumpur. It was like back to Indonesia but still in Malaysia. We speak Indonesian, which I am still good  at. 3 years are well spent there. Experiencing a lot of unbelievable things. Sadly, school days has to end. I graduated.

19-?
My plan is, that I pursue my study in Kuala Lumpur as well. But, the reality tells different story. I had to move to Hamburg, Germany. Well, you were born there (Germany), you shouldn't have any problem with that. Unfortunately, I was only 3 that time. And now I have to be that person again, who doesn't know anything. Have to learn from the bottom. A year has passed. I thought I will pursue my study here in Hamburg. But, no. I have to move to Halle  now. Preparatory course before university.

I don't know why, when I just feel comfortable. I have to move and feel uncomfortable again. Whenever I feel that I'm settled, I have to move and trying to settle down. So far I live really well everywhere. Problems are normal and I am able to overcome it.

I'm proud of myself. :)

But, can I go back to 12-19? and let the time stop.

Raya/Lebaran!

10:24 PM

Selamat Hari Raya everyone!

This year's Ramadhan had a different feeling. After a month devoting myself to god, praying even harder, reciting Qur'an oftener and doing only good deeds, I feel like I'm ready to become a better person. I think I graduated from this training with a flying color. I really hope that during Ramadhan I built a tons of good habit.

And now it's Syawal. And it also means RAYA or LEBARAN or Eid Fitr! This year would be another year of celebration far away from what-so-called home, Indonesia. Even tough I have my family here, Raya or Lebaran without the whole complete family is still incomplete. The day before Raya I was pretty sad. Listening to all time fave Lagu Raya (Raya song) in Malaysia, I cried. I miss the Raya vibe both in Indonesia and Malaysia. It just feels so much different here. We did celebrate Eid, we did have ketupat and opor (signature dish in hari raya) here. But without my granpa, aunties, uncles, cousins and other relatives, it still feels empty though I have a lot of friends here.

A year ago, I was very excited. I have never celebrated Eid in a country, which muslims are only minority. Turned out, it's just another gathering with Eid prayer as opening. I really used with the idea of celebrating Eid for the whole month of Syawal. In Malaysia they celebrate Eid or they having Raya for the whole month. Or the idea of family gathering and doing halal bi hahal (catching up with one another) having to see new cousins, nephew and eating lots of yummy foods. And here in Germany, we did celebrate Eid. But only on the 1st Syawal (or 2nd as well perhaps, depends on which day is the 1st syawal) but with friends who we already considered as a family.

But it's okay. At least we are still able to watch Ramadhan coming and going. And we still able to celebrate Eid fitri and do the prayer. Alhamdulillah.

Taqobballahu Mina Waminkun. May Allah accept all our ibadah.

Best Regards from Hamburg.

Aku cinta

8:42 AM

Cinta.
Otakku selalu menghubungkan kata cinta dengan bayang dirimu.

Aku cinta. Aku cinta.
Kata sakral yang sering diucapkan, tetapi sarat akan makna. 

Aku pernah berkata cinta.
Dalam diam dan riuh.
Dalam tangis dan tawa.

Lalu dia mempertanyakan
Cinta kah kau?
Aku bilang aku cinta.

Tapi baginya tidak.
Aku terlalu jauh
Aku terlalu hina
Aku terlalu salah.

Lalu tak ku ucapkan lagi cinta.
Biar waktu yang membuktikan
Biar takdir yang menentukan.

Besok, lusa, dan seterusnya aku tetap cinta.

This is my life, I run the show!

6:49 PM


Banyak banget yang bilang kalo hidup itu harus sesuai apa yang kita mau. Karna itu hidup kita, bukan orang lain. Jadi orang lain tidak punya hak untuk menentukan ini-itu di dalam kehidupan kita. Benarkah? Mengapa aku tidak merasa begitu? 

Mungkin di dunia barat prinsip ini berlaku. Contoh saja Jerman. Anak ketika sudah mencapai 18 tahun, mereka sudah berhak atas diri mereka sendiri. yang berarti, mereka sudah bisa memilih untuk diri sendiri serta bertanggungjawab atas dirinya sendiri. Setelah 18 tahun, anak-anak di Jerman biasanya kuliah dan tinggal sendiri. Kebanyakan dari mereka bekerja untuk makan sendiri. Singkatnya setelah 18 tahun, mereka cabut dari rumah.

Sekelas dengan orang dari berbagai penjuru dunia ( emang dunia ada penjurunya?), aku sering ditanyai hal yang buatku itu biasa tapi buat mereka sangat lah aneh. "Kalau di Indonesia, kalau orang tuanya tidak setuju jadi tidak boleh menikah? Kok begitu? Kan yang mau menikah bukan orang tuanya!" Aku cuma bisa tersenyum. Ya! di Indonesia dan kebanyakan budaya timur, prinsip 'This is my Life, I run the show!' itu tidak berlaku. Ada banyak faktor yang membuat prinsip ini terlihat seperti 'rebel'. 

Faktor pertama buatku adalah, adat istiadat. Di timur, orang tua adalah elemen terpenting. Karna kita percaya bahwa jika mereka setuju, maka semuanya akan berjalan dengan baik. Yang ini mungkin orang barat masih bisa terima dan mengerti. Mereka paham kalau kekeluargaan itu penting di timur. Tapi, ada satu hal yang aku kurang setuju, orang tua yang selalu memilihkan untuk anaknya. Mereka bilang mereka sudah makan banyak asam garam dan tau yang terbaik untuk anaknya. Alasan itu buatku sama sekali tidak valid, mungkiin untuk beberapa hal tapi tidak semua. Dan ketika si anak merasa tidak setuju, mulailah mengalir kata-kata seperti 'Keras kepala, tidak mau mengikuti kata orang tua' dan 'durhaka, karna tidak mau mendengarkan orang tua'. Tapi ketika kita berbicara tentang agama, yaitu islam. 'Ridha Allah s.w.t adalah Ridha Orang Tua', maka semua yang ditulis sebelum dua kalimat terakhir paragraf ini akan lenyap.

Faktor kedua adalah lingkungan. Di Indonesia orang itu perduli dengan kata-kata orang lain. Beda dengan di barat. Mereka tidak perduli apa kata orang. I live my Life with my way!. Kadang untuk melakukan hal yang berbeda  dari  biasanya (walaupun masih dalam konteks yang baik), orang tidak berani. Karna mereka takut orang-orang akan berkata macam-macam.

Banyak yang berkata, bahwa di Deathbed banyak orang menyesal karna tidak melakukan semua sesuai keinginannya dulu. Apakah di deathbed setiap orang Indonesia menyesal?

For me personally, aku sudah mencoba menyuarakan prinsip ini. 'This is my life, I run the show!'. Tapi gagal. Would I be regretful on my deathbed?

Intinya?

Do you run your own show?

Rumah

1:32 PM


Aku tidak pernah sebelumnya merasakan Homesick. Buatku orang yang mengatakan bahwa dia sedang Homesick adalah orang yang berlebihan. Bagaimana bisa seseorang sangat merindukan suatu tempat yang dipanggilnya rumah? It's just a place.

Tapi presepsi itu berubah ketika aku meneteskan airmata karena aku rindu rumahku. Apakah aku merindukan Indonesia? Ya, tapi aku meneteskan airmata bukan untuk Indonesia. Maaf. Yang aku panggil rumah adalah tempat dimana aku tumbuh besar. Mulai dari fase anak-anak hingga remaja hingga dewasa. Tidak sedikit hal yang aku pelajari disana. Aku meneteskan airmataku untuk Kuala Lumpur. Terlalu banyak kenangan indah yang dipetik disana.

Sudah setahun satu bulan aku tidak menginjakkan kaki di Kuala Lumpur. Sudah setahun satu bulan aku meninggalkan hatiku disana. Sudah setahun satu bulan aku tidak menghirup udara disana. Dan setelah satu tahun satu bulan ini, aku mulai meneteskan airmata.

Aku rindu berada disana.


Ramadhan!

10:04 PM



Happy Fasting everyone!

Ramadhan this episodes, I will spend it in a totally different place. And also in totally different time zone! As we all know, right now I am staying in Hamburg with the time zone +01:00 CET. So Indonesia and Malaysia will start fasting 6 hours earlier than us here. But that is not really the problem. The problem is, that right now in Germany is Summer! The day is longer than The Night. Yes, I am fasting 6 hours longer that you guys in Indonesia or Malaysia. So when you guys are already eat Sahur, I'm just breakfasting here. Well, it is not a problem actually, it is a challenge! I have tried to fast before, and it was okay. 19 hours fasting is not a problem! I can do it!

The feeling?
Totally different. Thanks to my calendar's alert. He told me just now that tomorrow is Ramadhan. I almost completely forget. They don't have any Dates' ads, Sarong's ad or Syrup's Ad for breakfasting as a sign that Ramadhan is around the corner. It is kind of dull and boring here. Sadly, I have to face it.

So, Happy Fasting everyone!

Ramadhan Mubarak!

Yeay!

10:24 PM

Finally, I step on the ground again!

After so many months not occupied by anything, finally I decided to be busy! I enrolled my self into some online course from University world wide. The courses are interesting. And I can choose whatever I want to learn. So it is basically a subject that taught in University, but they put it online for free. Yeay! It also has assessment, quiz and grading. I feel like I am attending Open University. I learn from home, I did the assessment from home. Submit it online. It was just great! I love it.

My current subject is Andy Warhol. I really love all of his works. The Monroe's, Banana painting, Campbell's Soup can, and etc. I love the way he plays with color. I learned about his backgrounds and history. The one that disappointed me is, that he is gay. The course is from University of Edinburgh. The Lecturer's accent is love. I've done 1st assessment which is very cool! and the 3rd week quiz.

I have enrolled in another class, about fantasy in life! Cool huh? It begins in three weeks. I am very happy, that I learn something again.

PEOPLE, AFIFA NOW HAS A LIFE!!


My 1st assessment. ( feel like I am design/art student :D)

Berlin

11:21 PM




Hari ini aku melangkahkan kaki ke tempat  yang sebenarnya sudah pernah ku pijak. Tempat yang sebenarnya adalah tempat yang pertama kali ku pijak. Akhirnya setelah 16 tahun aku kembali lagi. Aku merasa seperti anak kampung ke kota. Kampung Hamburg sangat berbeda dengan Kota Berlin. Pusat perbelanjaan megah, gedung pencakar langit, atau stasiun kereta modern belum menyentuh Hamburg. 

Tapi anehnya, aku merasa aneh disini. Berlin terlalu besar, terlalu kompleks, ramai dan hingar bingar. Tapi dibalik semua itu, Berlin tetap spesial dengan sejarahnya, sejarah seorang bayi perempuan yang lahir pada tanggal 12 September 1994. 

Ich bin eine Berlinerin und bin schon wieder hier!